Sejarah TKA-TPA
- Minggu, 22 Februari 2026
- Administrator
- 0 komentar
TKA-TPA (Taman Kanak-Kanak Al-Qur’an dan Taman Pendidikan Al-Qur’an) merupakan lembaga pendidikan nonformal yang berfokus pada pembelajaran baca tulis Al-Qur’an dan penanaman dasar-dasar ajaran Islam bagi anak-anak sejak usia dini.
Perkembangan TKA-TPA di Indonesia mulai pesat pada dekade 1980–1990-an, seiring meningkatnya kesadaran umat Islam akan pentingnya pendidikan Al-Qur’an sejak dini. Salah satu tonggak penting dalam pengembangan sistem pembelajaran Al-Qur’an adalah lahirnya metode pembelajaran praktis dan sistematis yang memudahkan anak-anak membaca Al-Qur’an dengan cepat dan tepat.
Gerakan ini kemudian semakin terorganisir dengan hadirnya lembaga koordinasi di berbagai daerah, termasuk BADKO (Badan Koordinasi) TKA-TPA, yang berfungsi sebagai wadah pembinaan, standarisasi kurikulum, peningkatan kualitas ustadz-ustadzah, serta penguatan manajemen lembaga.
Secara umum, TKA-TPA memiliki jenjang:
-
TKA (Taman Kanak-Kanak Al-Qur’an) untuk usia pra-sekolah.
-
TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) untuk usia sekolah dasar.
Selain mengajarkan baca tulis Al-Qur’an, TKA-TPA juga membina:
-
Hafalan surat-surat pendek
-
Doa-doa harian
-
Praktik ibadah (wudhu, shalat)
-
Akhlakul karimah dan adab Islami
Keberadaan TKA-TPA menjadi bagian penting dalam membentuk generasi Qur’ani, yaitu generasi yang mencintai Al-Qur’an, berakhlak mulia, dan memiliki pondasi keimanan yang kuat.
KH. As'ad Humam
Beliau adalah penggagas metode pembelajaran Iqro’ dan perintis gerakan TK Al-Qur’an di Yogyakarta pada akhir tahun 1980-an. Dari gerakan inilah kemudian lahir sistem pembinaan yang lebih terstruktur, termasuk pembentukan BADKO TKA-TPA (Badan Koordinasi) sebagai wadah koordinasi, pembinaan, dan standarisasi lembaga TKA-TPA di berbagai wilayah Indonesia.
Gerakan ini berkembang pesat karena:
-
Metode Iqro’ yang praktis dan sistematis
-
Dukungan masyarakat dan masjid
-
Kebutuhan pendidikan Al-Qur’an sejak usia dini
Di tingkat daerah, termasuk Kabupaten Kulon Progo, BADKO biasanya dibentuk oleh para tokoh agama dan penggerak TKA-TPA setempat sebagai bagian dari pengembangan gerakan nasional tersebut.